Baca: Kejadian 27: 1-46| Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 27-28, Matius 9: 18-38



 

Kata Esau: “Bukankah tepat namanya Yakub, karena ia telah dua kali menipu aku. Hak keselunganku telah dirampasnya, dan sekarang dirampasnya pula berkat yang untukku.” Lalu katanya: “Apakah bapa tidak mempunyai berkat lain bagiku?” –Kejadian 27: 36

Sebagai anak sulung dari Ishak dan Ribka, Esau berhak mewarisi kekayaan ayahnya dan menjadi kepala dari keluarga besar. Tetapi ia telah menukarkan hak tersebut hanya dengan semangkuk sup.  Bisa Anda bayangkan? Ada seorang ahli waris yang akan mewarisi kekayaan yang luar biasa-secara rohani dan materi. Pasti telah mendengar kisah luar biasa tentang kakeknya, Abraham dan neneknya Sara, dan bagaimana Allah telah menuntun mereka saat mereka mulai merintis kehidupan mereka. Tidakkah ia memperhatikan cerita tentang altar yang pernah didirikan Abraham semasa hidupnya sebagai penghormatan kepada Allah? Ayahnya Ishak, juga bukan orang yang lemah. Ishak mengetahui arti penting dari penyembahan dan doa. Itulah yang membuat Ishak hidup sesuai dengan kehendak Tuhan, hal yang dipelajari Ishak dari ayahnya. Jadi apa yang terjadi dengan Esau?

UNTUK DI RENUNGKAN: Bukan karena Esau orang jahat. Ia hanya tidak tertarik. Ia lebih tertarik pada hal – hal lain daripada harus terikat pada tanggung jawab sebagai anak sulung. Ia lebih menikmati kehidupan berburu, hidup di alam terbuka bersama teman – temannya. Hidup untuk “saat ini”. Pada waktu kekacauan besar terjadi (Yakub mencuri berkat kesulungannya), barulah Esau terbangun. Sekarang baru ia menginginkan semua yang telah terambil dari genggamannya dan merasa bahwa ia yang berhak atas semuanya. Benarkah ia berhak?

Benarkah Esau berhak atas sesuatu yang selama ini tidak dihiraukannya? Ia tidak pernah peduli akan hal – hal yang berkaitan dengan Tuhan. Ia tidak peduli dengan tanggung jawab. Mungkin di kemudian hari ia akan berubah, tetapi saat itu ia tidak mempedulikannya. Dan akhirnya, semakin ia biarkan begitu saja, hal itu menjadi terabaikan. Ada saatnya di mana Anda merasa malas memikul tanggung jawab Anda-gereja, keluarga, Tuhan. Ada banyak kegiatan dan ketertarikan pada hal yang lain, yang menuntut perhatian dan waktu Anda. Tetapi sekaranglah waktunya untuk berinvestasi bagi masa depan Anda. Lain waktu mungkin sudah terlambat.

Tuhan, tolong tumbuhkanlah disiplin yang aku perlukan untuk mengembangkan hidup yang menyenangkan-Mu. Biarlah aku selalu mengingat bahwa waktu dan usahaku untuk menjalin hubungan dengan-Mu sangat bermanfaat, dan biarlah aku terus hidup dan bertumbuh dalam Engkau.